
Malam, teganya engkau menjemput senjaku sehingga ia lekas benar pergi.
Tahukah engkau, senja itu teramat berarti bagiku
walaupun adek lebih menyukai fajar di pelupuk pagi.
Yah, barangkali fajar adalah awal terbitnya kebahagiaan.
Permulaan dari sebuah kehidupan, demikian adek menggambarkannya.
Aku mahfum.
Karena banyak orang yang lebih menyukai fajar ketimbang senja,
bukankah hal yang begitu manis dan menyejukkan kala senyum fajar mulai merekah?
Tapi maafkan,
tetap saja aku tak ingin menukarnya dengan siapapun.
Tahukan kalian, senja itu teramat berarti bagiku.
Karena senja memiliki sejuta senyum kesenduan.
Siapa yang tidak iba pada kesenduan?
Siapa yang tidak trenyuh pada duka yang menggantung ketika malam menjemputnya?
Katakan padaku siapa yang tidak merasakan semua itu?
Tidakkah mereka yang memiliki hati berniat mengusap lukanya.
Mungkin tuk sekadar berada di sampingnya, menghiburnya.
Karena aku yakin, tak seorangpun didunia ini yang bisa menghapus luka kecuali menyembunyikannya?
Bukankah setiap jiwa kerap mendambakan kehidupannya berakhir bahagia,
Tetapi pernahkan engkau, kalian, siapa saja, berharap didatangi duka di ujung jalannya;
barangkali jalan cintanya, jalan remajanya, jalan dewasanya, jalan tuanya, hingga jalan ajalnya.
Lalu ketika ia menghampiri, apa yang engkau, kalian, siapa saja, lakukan untuk itu?
Apa?
Menjadi seorang pahlawan yang seakan-akan merasa berjasa?
Atau sekadar menjadi beban baginya?
Kalian sungguh tidak mengerti
bahwa airmata begitu berharga daripada tawa.
Makanya Tuhan tidak menciptakan muara sebuah tawa
karena akan membuat keangkuhan menjadi raja
Juga karena Tuhan lebih mengasihi orang-orang yang berduka, penuh rana, teraniaya
melalui tangis yang meneteskan bulir-bulir kepiluan.
Maka senja adalah keharuan manakala jiwa-jiwa senantiasa meresapinya.
Tahukah kamu Dek,
bahwa senja teramat berarti bagiku
dan bagi mereka yang memiliki jiwa
Aku ingin mengajakmu mencintai senja, Dek.
Ketika cahaya itu menggelincir
Pun saat lazuardi dan rumbai2 lembayung menukik di kaki langit,
duduklah sendiri, atau didekatku,
di tubir pantai yang landai seperti Pulau Bangkaku
di taman yang dipenuhi bunga-bunga bermekaran
di sudut-sudut kota
di jembatan-jembatan tua
di kantor-kantor yang hampir tutup jam kerja
karena,
hanya disanalah Adek akan menemukan senja
dan tidak akan pernah ada orang-orang yang setia menanti fajar
apalagi di tempat-tempat seperti itu
bukankah itu sebuah keindahan yang damai,
teramat damai bahkan.
lalu aku bersikeras mempertahankan senja
karena aku tidak ingin kehilangannya
Maka izinkan esok aku pergi bersama senja
Aku sangat mohon padamu
Jangan tukar senjaku, Sayang...!
Ku tulis tepat di tubir malam 121208 00:00